Rentaro Taki, Jenius Muda Yang Tidak Pernah Mati



Dalam persoalan seni musik kita hanya mendengarkan sesuatu yang dianggap enjoy untuk sekedar dinikmati tanpa memahami makna dalam setiap apa yang didengarkan. Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan oleh siapapun, karena ketidak mampuan dalam memahami pesan yang disampaikan dalam musik akan memudarkan kesan dari musik itu sendiri. Seorang musisi hebat tidak pernah menciptakan untaian notasi balok yang memukau tanpa melakukan penelusuran panjang kisah-kisah yang kelak akan mewarnai setiap notasi pada baris bar musik yang mereka ingin ciptakan.


Rentaro Taki dalam menciptakan lagu kojo no tsuki tidak serta merta nada yang ia hasilkan keluar begitu saja tanpa ada sentilan kisah yang melatar belakangi tatanan nada yang ia ciptakan. Lagu yang ia tetaskan pada baris bar notasi musik sangat di inspirasi oleh reruntuhan kastil Okajyo. Kepedihan Rentar dalam melihat puing-puing kastil Okajyo telah benar-benar membangkitkan ruang seni dalam dirinya yang kemudian mencoba mengubah puing-puing kastil Okajyo menjadi bait lagu yang sangat mempengaruhi masyarakat Jepang.


Walaupun karya yang lahir dari Rentaro tidak sebanyak yang dilahirkan oleh kitaro tapi Rentaro telah mewariskan sebuah lagu yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat jepang. Meskipun Rentaro Taki meninggal pada usia muda 24 tahun, tapi ia meninggalkan salah satu lagu yang paling dicintai oleh masyarakat Jepang Begitu berpengaruhnya lagu ini hingga dizaman perjuangan, untuk menghibur dan membangkitkan semangat tentara jepang, para pembesar militer saat itu sering kali menyewa artis papan atas jepang dizamannya hanya untuk menyanyikan karya Rentaro.


Secara umum lagu ini mengisahkan tentang kondisi dimana Kastil Okajyo sebelum menjadi reruntuhan. Tapi dalam lagu ini menggambarkan suasana kesibukan dalam kastil Okajyo yang sangat berkesan. Dimana kesannya begitu melekat saat aktifitas dalam kastil disandingkan dengan suasana malam dimusim semi. Rentaro menggambarkan dengan jernih hingga pesta bunga yang diadakan pada menara tidak luput dalam syair lagunya. Tidak hanya kegiatan pesta dalam kastil yang dikisahkan dengan jelas tapi saat bulan yang merangkak dari atas pinus tua. Gambaran-gambaran ini kemudian ditransmutasikan oleh Rentaro dengan zaman dimana ia berada. Yang kemudian dalam syairnya mempertanyakan tentang kebahagiaan masa lalu yang telah sirna, “tapi sekarang dimanakah kecerahan hari lampau”.


Kecerahan masa silam yang digambarkan oleh Rentaro memudar oleh sinar bulan yang memacar dari setiap pedang yang terhunus. Pertikaian dalam kastil yang digambarkan oleh rentaro telah mewariskan kisah, dan kastil Okajyo telah membuat sejarahnya sendiri. Dalam lantunan nada ¼ yang dibuat oleh Rentaro, kisah kehidupan masa silam dalam kastil Okajyo tetap hidup dalam hati masyarakat Jepang hingga saat ini. Rentaro sang jenius muda tidak akan pernah mati, tapi dia akan terus hidup dalam melodi ingatan setiap orang Jepang...



Malang, 27 Maret 2012

0 komentar on Rentaro Taki, Jenius Muda Yang Tidak Pernah Mati :

Poskan Komentar