Suatu Waktu Di Surabaya



Selama ini setiap kali ke surabaya kesannya hanya sebatas numpang lewat saja sehingga tidak ada kisah yang sempat ditorehkan dalam setiap perjalanan kesana sebagai sebuah cerita yang suatu waktu akan mengingatkan saya bahwa ada kepingan episode masa silam yang indah yang pernah kuukir disana. Hari ini saat saya kesana pikiran dan perasaan saya biasa saja, saya tidak membayangkan kalau akan ada sesuatu yang luar biasa. Saat berangkat yang melintas dalam benak saya adalah panas, macet, debu dan lain sebagainya yang akan membuat saya mendongkol dan menggerutu selama berada disana. Dan benar, saat saya sampai disana apa yang ada dalam pikiran saya semuanya terbukti, dimana-mana penuh dengan antrian panjang kendaraan yang merangkak pelan.

Rasa dongkol itu perlahan-lahan sirna saat saya di ajak ketempat yang belum pernah saya tau sebelumnya. Tempat yang bagi saya bisa menguapkan gumpalan kekesalan saya sebelumnya, tempat yang bisa meneduhkan saat amukan amarah mulai merasuki. Hari ini saya merasa seolah memasuki dunia yang tidak seperti yang saya citrakan sebelumnya. Seorang teman telah membantuku membuat kepingan-kepingan episode indah dalam sebuah rangkaian peristiwa selama perjalanan saya hari ini. Sebelumnya saya tidak pernah tau dan tidak pernah membayangkan bahwa akan ada banyak hal menarik yang bisa saya dijumpai disana yang akan menjadi endapan-endapan rindu yang akan terus memanggil untuk kembali kesana. 

Terima kasih telah membantuku menyingkap kabut yang menutup keindahan setiap sudut kota Surabaya. Sebenarnya saya masih betah untuk berlama-lama disini untuk menyingkap keidahan-keindahan yang lain sebagai serpihan kisah yang suatu waktu akan saya susun menjadi kisah yang utuh dan setiap kali saya mengingat dan menceritakan kisah itu maka saat itu juga saya akan mengingat bahwa ada sosok yang telah berjasa dalam membantuku menyusun episode-episode silam waktu berada di kota ini. 



Surabaya, 31 Juli 2011

Apakah Ekonomi Politik



Banyak orang yang selama ini salah memahami ekonomi politik, dimana mereka beranggapan bahwa ekonomi politik itu adalah ilmu yang terdiri dari dua bidang studi, seolah ekonomi politik dan politik ekonomi itu sama sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa teman saya. Pada umumnya mereka melihat bahwa ekonomi politik ini adalah ilmu yang melihat dan menganalisa kedua bidang tersebut. Dimana dalam pemahaman ini ekonomi dan politik merupakan instrument untuk membedah ekonomi dan politik. Pada hal sebenarnya ilmu ekonomi politik bukannya digunakan untuk membedah kedua bidang tersebut, walaupun kedua bidang studi ini berangkat dari dua nama bidang pengetahuan tapi bukan berarti dia mengkaji dua bidang yang dimaksud.

Menggabungkan kedua pemahaman tersebut, antara ekonomi dan politik adalah sesuatu yang mustahil karena keduanya berangkat dari dua pemahaman yang berbeda. Dimana ekonomi mencoba mengkaji persoalan rumah tangga dan motif mengejar keuntungan sedangkan politik berbicara tentang struktur kekuasaan. Jadi kedua bidang studi ini adalah sesuatu yang mustahil untuk di gabungkan karena masing-masing memiliki telaah yang sangat berbeda. Dalam hal ini ekonomi politik tidak bisa dilihat sebagai satu bidang yang mencoba menelaah dua bidang studi tapi ekonomi politik hanya menelaah satu bidang studi, sebagaimana yang dikatakan oleh yustika bahwa ketika ekonomi sudah disatukan dengan politik maka dia bukan lagi mengkaji dua bidang yang berbeda tetapi sudah mengkaji satu bidang. 

Karena itu ekonomi politik bukannya mengkaji ekonomi dan politik tapi disini ekonomi politik adalah mencoba mengkaji politik dengan menggunakan perspektif ekonomi. Disini ekonomi hanyalah sebagai tools atau alat untuk membedah tentang hubungan ekonomi dengan kekuasaan. Munculnya pandangan ini dilandasi oleh adanya pemahaman bahwa antara tindakan ekonomi dengan proses politik memiliki keterkaitan yang erat dan sulit untuk dipisahkan. Fenomena ini adalah sesuatu yang bersifat holistic dan  tidak bisa dikaji dengan ilmu ekonomi umum ataupun dikaji dalam pemahaman politik yang sempit. 

Adanya sisi lemah ini membuat kalangan ilmuwan ekonomi dan ilmu social politik untuk mencari formulasi yang tepat untuk menjawab persoalan yang tidak bisa dipecahkan melalui pendekatan ekonomi maupun politik.  Banyak pakar yang menganggap bahwa pendekatan ekonomi politik itu lebih baik, terutama jika digunakan dalam menganalisis fenomena  dan peristiwa yang tinggi kadar campuran ekonomi dengan politiknya. Dalam hal ini Dorodjatun Kuntjoro Djakti menganjurkan agar pendekatan ekonomi politik, lebih-lebih pendekatan ekonomi politik kelembagaan, harus lebih diperhatikan oleh sejumlah kalangan ahli ilmu social, termasuk ekonom, dan jika memungkinkan teknik analisis ekonomi politik ini lebih ditingkatkan kualitasnya.

Berangkat dari apa yang diuraikan oleh Dorodjatun diatas bahwa ada peristiwa atau fenomena-fenomena tertentu yang hanya bisa dipecahkan lewat pendekatan-pendekatan  ekonomi politik. Namun untuk meningkatkan keakuratan analisis ekonomi politik ini membutuhkan pembaharuan secara terus-menerus, sehingga kesimpulan yang dihasilkan benar-benar mengungkap fenomena yang sedang dianalisis.



Malang, 31 Juli 2011
Gang, 19 Kav. 7/7

Menyibak Mitos Prambanan

Sosok Jonggrang, sumber by google


Berpacaran di lokasi wisata, merupakan hal yang sangat mengesankan. Karena itu sesuatu yang biasa kalau tempat wisata dimanapun tidak lepas dari pemandangan seperti ini. Dari beberapa tempat wisata yang pernah saya kunjungi past menemukan fenomena sosial romantisme ini. Namun saya merasa agak aneh ketika berada di lokasi wisata prambanan. Pemandangan prambanan sangat berbeda dengan tempat wisata lain seperti Borobudur, Keraton Jogja dan lain sebagainya. Di wisata Prambanan tidak seorangpun saya menemukan sepasang kekasih yang berani berkunjung ke tempat ini, kecuali beberapa turis manca negara. Padahal berpacaran di tempat wisata paling tidak bisa memberikan beberapa keuntungan, selain romantis juga para pecinta bisa mengabadikan setiap gambar yang memberi kesan mendalam untuk di kenang pada suatu waktu. 

Lewat seseorang asal prambanan saya mendapat informasi bahwa ada sebuah mitos tentang prambanan yang sangat diyakini oleh masyarakat setempat. Hal-hal yang mendasari mitos tersebut, konon berhubungan dengan kisah cinta Bandung Bondowoso dan Loro Jonggrang dimana Pangeran Bandung menyabda Jonggrang menjadi batu hanya karena cintanya ditolak oleh Jonggrang, maka Tak sampai disitu, Bandung juga menyumpah bahwa siapapun yang memadu kasih di Candi Prambanan, akan mengalami putus cinta seperti dirinya. Mitos ini sangat diyakini oleh masyarakat setempat bahwa pasangan yang berpacaran di Candi Prambanan akan mengalami putus cinta. Mesti hal itu hanya sebatas mitos. Tapi, sebagian besar penduduk sekitar mempercayainya.

Percayakah anda dengan mitos diatas?

Lewat mitos Prambanan ini Saya melihat bahwa mitos-mitos yang ada di Nusantara ini sangat dipengaruhi oleh gaya filsafat etika Plato. Dimana model seperti ini merupakan gaya mengajar plato ketika mengajar kepada murid-muridnya. Disini Plato sering mengkaitkan filsafat moralnya dengan mengisahkannya dalam bentuk cerita seolah-oleh kisah dalam cerita yang di bawakan nyata adanya, padahal itu hanyalah sebuah pesan moral yang dibingkai dalam sebuah kisah. Dan kisah-kisah ini untuk zaman itu merupakan hal yang paling menarik sehingga paling cepat di pahami oleh murid-murid Plato sendiri. Salah satu pengaruh kisah yang dibuat oleh Plato yang saat ini masih menjadi teka-teki yaitu kisah tentang Negara Atlantis yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli. Ada yang meyakini bahwa apa yang ditulis oleh Plato tentang kisah Atlantis adalah benar adanya sementara yang lain meyakini bahwa ini hanyalah bentuk plato dalam menjelaskan dan memberi pemahaman kepada muridnya. 

 Plato, by Google
 
Harus diakui bahwa keterbatasan pengetahuan dan dangkalnya pemahaman yang dimiliki manusia pada Zaman itu membuat mereka memecahkan fenomena-fenomena apapun dengan menggunakan pendekatan kisah yang biasanya dilakoni oleh tokoh hitam dan putih yang kemudian hal ini memunculkan menjamurnya jenis-jenis mitos yang tedapat di nusantara. Batu yang menyerupai orang di pelabuhan air manis padang melahirkan mitos malingkundang, Tangkuban perahu di jawa barat melahirkan mitos Sangkuriang, Prambanan melahirkan kisah Jonggrang, Blambangan memunculkan kisah banyuwangi dan lain sebagainya. Mitos-mitos nusantara ini hanyalah filsafat moral, jadi bukan sesuatu yang harus dipercaya dan diyakini, tapi ini merupakan pesan moral untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan etika.




Malang. 29 Juli 2011
Gang, 19 Kav.7/7

Sobekan Catatan Yang Hilang


Warga dunia hari ini sedang khawatir dengan kondisi dunia yang sakit dan kacau balau, akibat perang ratusan bocah dan warga sipil palestina tewas, kelaparan yang melanda afrika telah menelan korban yang tidak sedikit, isu pemanasan global menjadi topic utama media internasional, satu desember kemarin orang memperingati hari AIDS sedunia dan mengkapanyekan kondom mengingat AIDS merupakan senjata siluman pemusnah yang menelan korban yang tidak sedikit dan setiap Negara penuh dengan skandal kejahatan birokrasi yang tidak pernah tuntas, di Indonesia  Kasus cicak lawan buaya sampai kasus bank century masih merupakan persoalan hangat sampai saat ini.

Entah apa yang menjadi persoalan kita hari ini sampai kekacauan itu tidak pernah teratasi sementara Dunia memiliki banyak stock orang pintar, dunia memiliki banyak Universitas-universitas terkenal yang memproduk manusia-manusia unggul menjadi terhormat dengan ilmu yang dimiliki. Dunia memiliki banyak Ahli hukum yang cerdas dan hebat dalam memproduk undang-undang dan berbagai aturan yang mengatur kehidupan kita menjadi lebih terarah menuju ke kehidupan yang lebih baik. Dengan kecerdasan yang kita miliki, kita telah membangun peradaban yang luar biasa yang tak tertandingi oleh peradaban manapun.

Wajah kampus Universitas Michigan

Dengan teknologi dan pengetahuan yang dimiliki umat manusia saat ini, dengan banyaknya kaum terpelajar yang menyandang gelar sarjana yang kita kita banggakan hari ini, seharusnya warga dunia hidup dengan penuh kedamaian, ketentraman, dan jauh dari segala bentuk kejahatan apapun, sehingga Pendidikan bukanlah sesuatu yang harus kita banggakan, pendidikan bukanlah sebuah solusi untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih baik karena Banyak kejahatan didunia ini justeru dilakukan oleh kaum terpelajar.

Untuk mengatasi hal ini kita tidak bisa mengenyampingkan peran agama sebagai control dalam setiap malakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kemanusiaan dan lain sebagainya. Namun dalam prakteknya justeru banyak orang pintar, banyak ilmuwan kita justeru mau memisahkan antara urusan agama dengan persoalan social kehidupan kita. Mereka membatasi peran agama hanya sebatas persoalan peribadatan saja menyangkut persoalan lain diserahkan pada pengetahuan dan peran manusia seutuhnya. Sehubungan dengan hal ini, Dr. Benyamin E. Mays, rector more house College, Atlanta berkata didepan konfrensi di Universitas Michigan Amerika Serikat  “kita memiliki lebih banyak orang terpelajar dari zaman apapun sepanjang sejarah, kita punyai lebih banyak orang-orang bergelar sarjana, tetapi kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit. Bukan ilmu yang kita perlukan, ilmu kita punya. Kemanusiaan memerlukan sesuatu yang bersifat rohaniah. 




Lapacua, 4 nov 09
Update. Malang, 29 Juli 2011 
Gang 19 Kav. 7/7

Saniri, Thanks


 Thanks bantuan proposalnya pak Piter
Saat ini saya telah berutang budi
 
Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada disisimu ketika kamu memerlukan dukungan, walaupun saat itu mereka sepatutnya berada di tempat lain yang lebih menguntungkan.



Malang, 28 Juli 2011